Respon Fisiologis Terhadap Nyeri

image

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama sese­orang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobat­an. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.
Nyeri adalah suatu perasaan sensorik yang tidak menyenangkan dengan disertai kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.

Individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya harus diminta untuk menggambarkan dan membuat ting­katnya.

Respons Perilaku terhadap Nyeri.

Respons perilaku terhadap nyeri dapat mencakup pernyataan verbal, perila­ku vokal, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak fisik de­ngan orang lain, atau perubahan respons terhadap lingkung­an. Individu yang mengalami nyeri akut dapat menangis, merintih, merengut, tidak menggerakkan bagian tubuh, mengepal, atau menarik diri. Orang dapat menjadi marah atau mudah tersinggung dan meminta maaf saat nyerinya hilang. Suara dari radio atau televisi dapat sangat men­jengkelkan bagi orang sedang nyeri. Perilaku ini sangat beragam dari waktu ke waktu. Meskipun respons perilaku pasien dapat menjadi indikasi pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres, respons perilaku seharusnya tidak boleh digunakan sebagai pengganti untuk mengukur nyeri kecuali dalam situasi yang tidak lazim dimana pengukuran tidak memungkinkan (misalnya orang tersebut menderita retardasi mental yang berat atau tidak sadar). Individu yang mengalami nyeri dengan awitan menda­dak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat indivi­du terlalu letih untuk merintih atau menangis jika perilaku demikian merupakan respons normal terhadap nyeri. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri. Indivi­du yang telah berhasil dalam meminimalkan efek nyeri kronik pada kehidupannya harus didorong ketimbang dipa­tahkan semangatnya dari koping dengan cara ini.

Proses fisiologis terkait nyeri disebut nosisepsi. Proses Nosisepsi tersebut terdiri atas empat fase, yaitu :

** Tranduksi. Pada fase tranduksi, stimulus atau rangsangan yang membahayakan memicu pelepasan mediator biokimia yang mensesitisasi nosiseptor.

** Transmisi. Fase transmisi nyeri terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama, nyeri merambat dari serabut saraf perifer ke medulla spinalis. Dua jenis serabut nosiseptor yang terlibat dalam proses tersebut adalah serabut C, yang mentransmisikan nyeri tumpul dan menyakitkan, serta serabut A-Delta yang mentransmisikan nyeri yang tajam dan terlokalisasi. Bagian kedua adalah transmisi nyeri dari medulla spinalis menuju batang otak dan thalamus melalui jaras spinotalamikus (spinothalamic tract atau STT). STT merupakan suatu system diskriminatif yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi stimulus ke thalamus. Pada bagian ketiga, sinyal tersebut diteruskan ke korteks sensorik somatic tempat yang dipersepsikan. Impuls yang ditransmisikan melalui STT mengaktifkan respons otonomi dan limbic.

** Persepsi. Pada fase ini, individu mulai menyadari adanya nyeri. Tampaknya persepsi nyeri tersebut terjadi di struktur korteks sehingga memungkinkan munculnya berbagai strategi perilaku kognitif untuk mengurangi komponen sensorik dan afektif nyeri.

** Modulasi. Fase ini disebut juga system desenden. Pada fase ini, neuron di batang otak mengirimkan sinyal-sinyal kembali ke medulla spinalis. Serabut desenden tersebut melepaskan substansi seperti opioid, serotonin, dan norepinefrin yang akan menghambat impuls asenden yang membahayakan di bagian dorsal medulla spinalis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s