6 Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

image

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama sese­orang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobat­an. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.
Nyeri adalah suatu perasaan sensorik yang tidak menyenangkan dengan disertai kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.

Deskripsi Verbal tentang Nyeri

Individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya harus diminta untuk menggambarkan dan membuat ting­katnya.

Respons perilaku terhadap nyeri dapat mencakup pernyataan verbal, perila­ku vokal, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak fisik de­ngan orang lain, atau perubahan respons terhadap lingkung­an. Individu yang mengalami nyeri akut dapat menangis, merintih, merengut, tidak menggerakkan bagian tubuh, mengepal, atau menarik diri. Orang dapat menjadi marah atau mudah tersinggung dan meminta maaf saat nyerinya hilang. Suara dari radio atau televisi dapat sangat men­jengkelkan bagi orang sedang nyeri. Perilaku ini sangat beragam dari waktu ke waktu. Meskipun respons perilaku pasien dapat menjadi indikasi pertama bahwa ada sesuatu yang tidak beres, respons perilaku seharusnya tidak boleh digunakan sebagai pengganti untuk mengukur nyeri kecuali dalam situasi yang tidak lazim dimana pengukuran tidak memungkinkan (misalnya orang tersebut menderita retardasi mental yang berat atau tidak sadar). Individu yang mengalami nyeri dengan awitan menda­dak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat indivi­du terlalu letih untuk merintih atau menangis jika perilaku demikian merupakan respons normal terhadap nyeri. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat. Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri. Indivi­du yang telah berhasil dalam meminimalkan efek nyeri kronik pada kehidupannya harus didorong ketimbang dipa­tahkan semangatnya dari koping dengan cara ini.

6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respons Nyeri

* Pengalaman masa lalu dengan nyeri. Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri.  Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang.  Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri yang berat, maka ansietas atau bahkan rasa takut dapat muncul.  Sebaliknya apabila individu mengalami nyeri dengan jenis yang sama berulang-ulang, tetapi kemudian nyeri tersebut dengan berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi individu tersebut untuk menginterpreasikan sensasi nyeri,

* Ansietas dan nyeri. Terdapat hubungan antara ansietas nyeri dan ansietas bersifat kompleks.  Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas.  Pola bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan ansietas.  Sulit untuk memisahkan dua sensasi.  Penelitian menunjukkan bahwa stimulus nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik yang diyakini mengendalikan emosi seseorang, khususnya ansietas.  Sistem limbik dapat memproses reaksi emosi terhadap nyeri, yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri. Individu yang sehat secara emosional, biasanya lebih mampu mentoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu yang memiliki status emosional yang kurang stabil.  Klien yang mengalami cidera atau menderita penyakit kritis, seringkali mengalami kesulitan mengontrol lingkungan dan perawatan diri dapat menimbulkan tingkat ansietas yang tinggi.  Apabila rasa cemas tidak mendapat perhatian di dalam suatu lingkungan berteknologi tinggi, misalnya di unit perawatan intensif (ICU), maka rasa cemas tersebut dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan nyeri yang sering serius.  Nyeri yang tidak kunjung hilang seringkali menyebabkan psikosis dan ganggu kepribadian.

* Budaya dan nyeri. Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka.  Hal ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri.

* Usia dan nyeri. Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia.  Perbedaan perkembangan, yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak-anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri. Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan nyeri.  Anak-anak kecil yang belum dapat mengucapkan kata-kata juga mengalami kesulitan untuk mengungkapkan secara verbal dan mengekpsresikan nyeri kepada orang tua atau petugas kesehatan.

* Fokus Nyeri. Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri.  Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri meningkat, sedangkan upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.

* Keletihan. Keletihan meningkatkan persepsi nyeri.  Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping.  Hal ini dapat menjadi masalah umum pada setiap individu yang menderita penyakit dengan jangka lama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s