Wanita Menopause Rentan Terkena Migrain

Hubungan antara migrain dan menopause sudah disebut-sebut sejak lama. Namun sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan hal tersebut. Penelitian terbaru meninjukkan bahwa wanita yang menjelang menopause lebih rentan mengalami migrain, minimal 10 hari dalam satu bulan.

Penelitian tentang hubungan migrain dan menopause. Penelitian melibatkan 3.000 wanita dengan rentang usia 35 hingga 64 tahun. Partisipan diketahui mengalami migrain dan sebagian besar sudah memasuki masa menopause. Hasil penelitian menyebut 8 persen wanita yang mengalami menstruasi mengalami migrain. Menjelang menopuse, 12 persen wanita mengalami migrain dan setelah menopause, persentase ini kembali meningkat 12 persen.

Migrain sebelum menopause disebabkan oleh tidak stabilnya hormon. Hal ini membuat pembuluh darah mengecil dan menyempit, dan mengganggu saraf di sekitar otak sehingga menyebabkan migrain. Sangat mungkin karena hormon. Tapi ketika sudah memasuki masa menopause, migrain perlahan akan mereda.

Serangan panas, pemarah, insomnia, dan depresi merupakan gejala umum yang dialami wanita ketika menopause. Dengan adanya penelitian ini, bisa dikatakan bahwa migrain juga merupakan salah satunya. Rata-rata wanita mengalami menopause saat berumur 51 atau 52 tahun. Melihat penelitian ini, migrain paling parah akan muncul di usia 42 hingga 47 tahun.

image

Migrain adalah gangguan kronis yang ditandai dengan terjadinya sakit kepala ringan hingga berat yang seringkali berhubungan dengan gejala-gejala sistem syaraf otonom.

Tandanya berupa sakit kepala unilateral (hanya pada separuh bagian kepala), berdenyut-denyut, dan berlangsung selama 2 hingga 72 jam. Gejala-gejala yang turut menyertai antara lain mual, muntah, fotofobia (semakin sensitif terhadap cahaya), fonofobia(semakin sensitif terhadap suara) dan rasa sakitnya semakin hebat bila melakukan aktifitas fisik. Sekitar-sepertiga penderita sakit kepala migrain mengalami aura: yaitu semacam gangguan visual, indra, bicara, atau gerak/motorik yang menjadi pertanda bahwa sakit kepala tersebut akan segera muncul.

Migrain dipercaya terjadi sebagai akibat dari gabungan berbagai faktor lingkungan dan genetik. Kira-kira dua-per tiga kasus terjadi pada orang-orang yang sudah berkeluarga. Kadar hormon yang naik-turun juga dapat berpengaruh: migrain sedikit lebih banyak terjadi pada remaja pria daripada wanita sebelum masa puber, namun pada orang dewasa, sekitar dua hingga tiga kali lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria. Kecenderungan migrain biasanya berkurang selama masa kehamilan. Mekanisme pasti migrain belum diketahui. Meski demikian, ada keyakinan bahwa penyakit ini disebabkan oleh gangguan neurovaskuler. Teori utama yang mendasari adalah adanya hubungan dengan meningkatnya keterangsangan korteks serebral dan kendali abnormal sel-sel syarafrasa sakit di dalam nukleus trigeminal batang otak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s