4 Gejala Yang Sering Menyertai Penderita Migrain

image

Migrain adalah gangguan kronis yang ditandai dengan terjadinya sakit kepala ringan hingga berat yang seringkali berhubungan dengan gejala-gejala sistem syaraf otonom.

Tandanya berupa sakit kepala unilateral (hanya pada separuh bagian kepala), berdenyut-denyut, dan berlangsung selama 2 hingga 72 jam. Gejala-gejala yang turut menyertai antara lain mual, muntah, fotofobia (semakin sensitif terhadap cahaya), fonofobia(semakin sensitif terhadap suara) dan rasa sakitnya semakin hebat bila melakukan aktifitas fisik. Sekitar-sepertiga penderita sakit kepala migrain mengalami aura: yaitu semacam gangguan visual, indra, bicara, atau gerak/motorik yang menjadi pertanda bahwa sakit kepala tersebut akan segera muncul.

Migrain dipercaya terjadi sebagai akibat dari gabungan berbagai faktor lingkungan dan genetik. Kira-kira dua-per tiga kasus terjadi pada orang-orang yang sudah berkeluarga. Kadar hormon yang naik-turun juga dapat berpengaruh: migrain sedikit lebih banyak terjadi pada remaja pria daripada wanita sebelum masa puber, namun pada orang dewasa, sekitar dua hingga tiga kali lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria. Kecenderungan migrain biasanya berkurang selama masa kehamilan. Mekanisme pasti migrain belum diketahui. Meski demikian, ada keyakinan bahwa penyakit ini disebabkan oleh gangguan neurovaskuler. Teori utama yang mendasari adalah adanya hubungan dengan meningkatnya keterangsangan korteks serebral dan kendali abnormal sel-sel syarafrasa sakit di dalam nukleus trigeminal batang otak.

4 gejala yang menyertai penderita migrain seperti:

*** Bsll Palsy..Penelitian terkini menunjukan bahwa penderita migren berisiko mengalami kelumpuhan pada wajah meningkat dua kali lipat. Penelitian pada riwayat lebih  dari 100.000 orang, yang sebagian besar dari mereka adalah penderita migrain, tim peneliti Taiwan menemukan peningkatan gangguan sistem saraf yang disebut dengan bells palsy. Bells palsy adalah penyakit saraf yang mengenai saraf fasialis (wajah), yang menyebabkan kelumpuhan otot-otot pada salah satu sisi wajah, sehingga wajah menjadi asimetris dan tampak melorot atau mencong. Penulis menjelaskan risiko ini terjadi hampir dua kali lipat pada penderita migrain.

*** Depresi. Penderita migrain, khususnya perempuan, cenderung mengalami depresi dibanding dengan yang bukan penderita. Faktanya, sakit kepala parah akan membuat suasana hati seseorang menjadi lebih asam. Namun hubungan antara depresi dan sakit kepala berjalan dua arah. Depresi berperan besar juga pada terjadinya sakit kepala.

*** Parkinson. Jika migrain Anda disertai dengan aura (kilatan cahaya atau benda-benda terlihat melayang), risiko terkena penyakit Parkinson bisa terjadi lebih dari dua kali lipat. Hal itu ditunjukkan dalam penelitian di Universitas Bethesda, MD. Sementara penyebab sakit kepala migrain masih diperdebatkan, para peneliti mengatakan masalah pada dopamin neurotransmitter mungkin yang berperan.

*** Penyakit jantung dan stroke. Studi Neurologi lain menghubungkan migrain dengan peningkatan risiko baik penyakit jantung dan stroke. Sekali lagi, hubungan yang sangat kuat terjadi diantara perempuan yang mengalami migrain disertai dengan lingkaran cahaya. (Risiko Anda terhadap stroke naik hingga 400% jika Anda memiliki migrain dengan lingkaran cahaya, studi ini menemukan).  Ketiga kondisi tersebut tampaknya terkait dengan perubahan dalam aliran darah. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s